About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 03 Juli 2013

duka masyarakat tambora

Posted by okta tegar On 03.38 No comments
Api Tambora di Jakarta 



Di kanan kiri jalan sempit itu rumah-rumah sepetak berderet-deret. Setiap petak luasnya kira-kira dua meter persegi. Di jalanan, ibu-ibu tampak memasak, menjahit, dan sekerumun lelaki bermain kartu. Sementara, di ujung jalan yang sama, rumah-rumah itu kosong melompong dan tak beratap lagi. Yang ada tinggal puing-puing bangunan bercampur abu. Tembok dan kayu terlihat hangus.
7 Februari 2013 lalu, saat sore menjelang magrib, rumah yang berderet-deret di Rukun Tetangga (RT) 10 Rukun Warga (RW) 05, Kelurahan Duri Selatan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, ludes terbakar. Sekurang-kurangnya dua puluh petak rumah habis dan nyaris tak bersisa. Tak kurang dari seratus orang pun kehilangan tempat tinggal.
“Apinya cepet banget nyambernyakagak pakai bilang-bilang,” ujar Agus, 44 tahun, berkelakar.
Agus adalah salah seorang warga yang rumahnya ikut terbakar. Saat itu, bersama rekan-rekan prianya, dia tampak memimpin pembenahan rumah-rumah yang terlalap api. Mereka sibuk menggergaji kayu, memasang tiang, dan memasang atap asbes.
“Sementara Pak RT (Rukun Tetangga-red) enggak tugas dulu, koordinasi warga saya ambil alih,” ujarnya. Lalu dia berbisik, “Pak RT trauma, enggak bisa diajak ngomong dulu. Sudah tiga kali rumahnya ikut terbakar.”
Agus mengaku orang asli Duri Selatan. Sejak kecil dia telah melihat setidaknya empat kali kebakaran yang menghabiskan puluhan rumah di lingkungannya.
“Cuma kalau rumah sendiri baru dua kali kebakar,” terang Agus.
Sunar, tetangga Agus, adalah pria asal Semarang, Jawa Tengah. Sejak 1972, dia merantau ke Jakarta dan mengontrak rumah di Duri Selatan. Rumahnya sempit seperti kebanyakan rumah petak milik tetangga-tetangganya. Sama seperti Agus, rumahnya pun pernah terbakar dua kali. Akan tetapi, peristiwa kebakaran yang terakhir tak sampai menyambar rumahnya.
“Tapi ya tetap ikut bantu-bantu di mari. Namanya juga tetanggaan (bertetangga),” kata Sunar.
“Kalau di sini semua kompak. Ada yang kena musibah pasti dibantu. Mau dia asli sini mau yang bukan, kompak. Kalau entar ada kebakaran lagi memang siapa mau bantu kalau bukan tetangga sendiri?” Agus menyahut.
Di Tambora, kebakaran serupa bukan terjadi sekali dua, tapi amat sering.
“Ibarat arisanlah kalau di Tambora. Minggu ini kebakaran di kelurahan A, nanti beberapa minggu lagi kejadian di kelurahan B,” ucap Kardi, salah seorang staf penghubung pada Suku Dinas Pemadam Kebakaran Kota Jakarta Barat.
Pada kebakaran terakhir di Duri Selatan, kantor Kardi sampai menurunkan lima belas armada. Ini jumlah yang cukup besar untuk sebuah kebakaran.
“Sebenarnya dibilang besar juga enggak kalau cepat-cepat dipadamkan. Cuma itu, kan pemukimannya padat. Mobil enggak bisa masuk, air mampet. Makanya, begitu api padam, yang kebakar sudah banyak,” kata Kurdi.
Pada 2012, menurut data yang dihimpun oleh Dinas Pemadam Kebakaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jumlah bencana kebakaran di Jakarta adalah sebanyak 1.008 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun 2011 yang berjumlah 963 kasus. Sebagian besar kasus kebakaran di Jakarta disebut-sebut disebabkan oleh sambungan arus pendek. Dan dari semua kasus tersebut, Kecamatan Tambora menyumbang jumlah kasus kebakaran tertinggi di antara kecamatan-kecamatan lainnya.
“Sedikit saja ada kasus, misalnya kompor meledak, orang-orang damkar (pemadam kebakaran-red) sudah bingung. Turun banyak armada,” ujar Camat Tambora, Isnawa Adji, 40 tahun.
Isnawa mengakui Tambora masuk dalam daftar merah soal kebakaran. Baginya, penduduk di wilayahnya kerap tidak tertib dalam mempergunakan listrik. Sering kali dia menginspeksi dan sering kali pula dia menemukan banyak pelanggaran penggunaan listrik, termasuk pencurian listrik.
“Sudah sejak 2008 inspeksi dilakukan. Banyak temuan kecurangan. Tapi sampai sekarang kalau mau dicek lagi pasti juga masih banyak,” keluh Isnawa.
Akan tetapi, Agus menerangkan hal berbeda. Menurutnya, kasus pencurian listrik memang ada di lingkungannya. Dan dia sebagai warga susah untuk mencegah hal tersebut. Tapi, dia mengatakan bahwa persoalannya bukan hanya ada atau tidaknya kecurangan. Persoalan yang lebih substansial adalah harus ada aturan supaya pemukiman yang sudah sepadat ini tidak ditambah dengan pendatang baru. Apalagi, dia tak yakin pemerintah mampu menyediakan rumah-rumah yang nyaman untuk dijadikan hunian.
“Saya lihat setiap kali ada kebakaran bantuannya makanan, mi instan. Tapi sampai kapan kebakaran diselesaikan pakai cara-cara begituan? Nanti juga kebakaran lagi, kok!”

Terpadat Di Asia Tenggara
Selain Kelurahan Duri Selatan, ada kelurahan lain yang bernama Kalianyar. Keduanya merupakan bagian dari sebelas kelurahan yang ada di Kecamatan Tambora. Bedanya, Kalianyar jauh lebih padat dan sesak.
Jalanan di Kelurahan Kalianyar tak pernah sepi. Meskipun jalannya sempit dan sebagian becek, orang-orang nyaris tak berhenti berlalu lalang. Ramai orang berjalan kaki, bermotor (motorcycle), dan mengendarai mobil. Jika berpapasan, karena sempitnya jalan, sesekali pengemudi motor dan mobil mesti berhenti untuk mempersilakan salah satunya bergerak duluan.
Di kanan kiri jalan, nampak deretan rumah yang berhimpit-himpit di dalam gang-gang gelap yang sebagian nyaris tak tersentuh cahaya matahari. Di sekitarnya parit-parit sempit mampet airnya.
Situasi dan kondisinya yang sesak membuat Kalianyar disebut-sebut sebagai kelurahan terpadat, bukan hanya di Jakarta, tetapi di Asia Tenggara.
“Data itu menurut penelitian salah satu lembaga PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa-red). Kalau enggak salah (penelitian dilakukan) tahun 2000-an,” tutur Isnawa. “Jadi kalau kelurahan, terpadat di Kalianyar, satu kawasan paling padat di Asia Tenggara, ya Kecamatan Tambora ini.”
Tambora Jakarta Bermula
Nama Tambora yang melekat pada wilayah ini bukan datang begitu saja. Dia merupakan nama yang berasal dari sebuah gunung di Pulau Sumbawa.
“Sebenarnya saya kurang tahu detail kisahnya. Tapi bahwa nama Tambora asalnya dari nama Gunung Tambora yang di Sumbawa sana memang benar. Dari yang saya dengar, memang orang-orang dari Bima yang kasih nama kampung ini,” ujar Isnawa.
Nama Tambora pertama kali memang diberikan oleh orang-orang dari Kesultanan Bima yang datang pada abad ke 17. Kisahnya dimulai saat terjadi perang di Pulau Jawa pada 1676 sampai 1679, yakni antara Trunojoyo melawan Amangkurat I dari Mataram. Saat itu, Mataram dibantu oleh Perserikatan Perusahaan Kerajaan Belanda untuk India Timur (VOC).
Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten melibatkan negaranya dalam peperangan tersebut dengan membantu Trunojoyo. Deni Prasetyo, dalam bukunya Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara (2009), menuliskan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa merasa berkepentingan untuk turut menggempur Mataram. Alasannya, Sultan Cirebon Panembahan Girilaya, sekutu Banten, meninggal sewaktu kunjungan ke Kartasura (wilayah Mataram). Bahkan, kedua putra Sultan Cirebon, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, ditawan oleh Amangkurat I. Pada saat memerangi Mataram inilah Sultan Ageng Tirtayasa meminta bantuan kepada Kesultanan Bima.
Setelah Banten memintakan bantuan, Sultan Bima Abdul Khair Sirajuddin lantas mengirimkan pasukan ke Pulau Jawa. M. Hilir Ismail, dalam bukunya Peran Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara(2004), menuliskan bahwa pasukan Bima tersebut dipimpin oleh putra sultan sendiri, yakni Nuruddin Abubakar Ali Syah.
Pada saat terlibat dalam perang di Jawa tersebut, Nuruddin dan sekitar 19 anggota pasukannya tertawan oleh pasukan VOC. Mereka dibawa ke Batavia. Di sana, menurut Dr. Jacobus Noorduyn melalui artikel Makassar And The Islamization Of Bima, pasukan Bima tidak ditawan di sel, tetapi dibiarkan terlantar.
Tindakan Belanda ini faktanya memberikan kesempatan kepada Nuruddin dan pasukannya untuk membangun pemukiman di sebuah wilayah di Batavia. Selain membangun pemukiman, mereka juga melakukan pernikahan-pernikahan dengan penduduk setempat. Tak berapa lama pemukiman itu pun berkembang. Dan oleh orang-orang Kesultanan Bima ini, wilayah itu disebut Tambora, sesuai dengan nama gunung yang menjadi kebanggaan mereka di negara asalnya.
Meski demikian, Nuruddin sendiri tidak menetap di Tambora Batavia. Dia memutuskan pulang ke Bima. Di negaranya, dia kemudian ditabalkan menjadi Sultan Bima pada Dzulhijjah 1093 Hijriah atau 1682 Masehi. Tapi usia pemerintahannya tak lama. Dia jatuh sakit dan kemudian mangkat pada 13 Ramadhan 1099 Hijriah atau 22 Juli 1687 Masehi. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Tolobali, Bima.
Tambora Kemudian
Pemukiman yang dibangun oleh orang-orang Bima ini kemudian berkembang pesat. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, abad berganti abad, orang-orang dari berbagai negeri kemudian turut berdatangan dan bermukim di sini. Karena arus migrasi yang cukup kencang, tingkat kepadatan jumlah penduduk Tambora menjadi sangat tinggi.
Dari data yang diambil pada Januari 2012, jumlah penduduk di Kecamatan Tambora mencapai 277.606 jiwa. Jumlah manusia ini menempati wilayah seluas 540,11 hektar. Sedangkan kelurahan terpadat adalah Kalianyar, yang menurut survei kelurahan setempat pada Desember 2012, jumlah penduduknya sebanyak 29.055 jiwa. Jumlah penduduk ini berjejal di dalam wilayah yang memiliki luas 31,8 hektar.
Menurut buku Tambora Dalam Angka, jumlah penduduk musiman di kecamatan ini sangat banyak. Antara 40 persen sampai 60 persen. Mereka merupakan pendatang yang datang sewaktu-waktu atas kemauan sendiri dan mencari peruntungan dengan menjadi pekerja-pekerja di sektor informal.
Banyak sebab yang membuat Tambora menjadi wilayah yang dijejali manusia. Akses transportasi yang mudah, letaknya yang berdekatan dengan pusat-pusat perekonomian, dan wilayah yang biaya hidupnya relatif murah di Jakarta. Namun, salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah tumbuh dan berkembangnya industri konfeksi yang tersebar di hampir seluruh kelurahan di Kecamatan Tambora.
Isnawa bercerita bahwa industri konfeksi mula-mula muncul di Tambora pada 1970-an.
“Ketika itu banyak perantau dari Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat, datang ke Jakarta dan tinggal di wilayah Tambora. Merekalah yang memulai usaha konfeksi. Sejak saat itu, industrinya terus tumbuh dan terkonsentrasi di sini,” ujar Isnawa.
Di antara kesemrawutan yang nampak di Kelurahan Kalianyar, Muara Angke, dan Tambora, industri-industri konfeksi rumah tangga memang menyebar di mana-mana. Hanya dengan sepintas lalu, akan terlihat pintu-pintu yang terbuka, yang di dalamnya orang-orang tengah sibuk menjahit, menggulung benang, atau sekadar memotong pakaian.
“Hampir semua kelurahan jadi sentra konfeksi. Mungkin Cuma Roa Malaka (salah satu kelurahan di Kecamatan Tambora-red) yang sepi usaha konfeksi,” tutur Isnawa.
Isnawa mengaku tidak memiliki data resmi berapa jumlah usaha konfeksi rumah tangga yang ada di Tambora ini. Yang jelas, saat ini setiap tahun permintaan konfeksi selalu naik dan usaha serupa juga bertambah banyak dan beragam. Ada yang menyediakan pakaian dalam jumlah besar, namun ada pula yang cuma menyediakan kain-kain untuk serbet atau taplak.
“Coba lihat di rumah-rumah yang punya konfeksi. Nanti akan banyak pengumuman lowongan jadi tukang jahit, tukang bordir. Macam-macam,” terang Isnawa.
Secara faktual, usaha ini memang mendatangkan jumlah pekerja yang luar biasa banyak. Mereka datang dari berbagai daerah.
“Kalau cuma butuh kerja, apalagi orangnya bisa menjahit, ibaratnya kemarin datang, hari ini bisa mulai kerja,” tutur Pangestu Aji, 30 tahun, Sekretaris Kelurahan Kalianyar.
Madjid, misalnya. Perempuan 64 tahun ini telah tinggal di Kalianyar sejak 1960-an. Bersama almarhum suaminya, dia yang datang dari Tasikmalaya, Jawa Barat, memang berniat mengadu nasib di ibu kota Indonesia. Mula-mula dia berdagang makanan. Karena merasa peruntungan tak memihak kepadanya, dia beralih usaha ke konfeksi.
“Waktu itu tahun 70-an awal. Almarhum suami yang mula-mula usul. Ganti saja! Jangan dagang lagi! Jahit! Sudah. Mulai jahit. Sampai sekarang ini,” tutur Madjid.
Setiap hari Madjid bekerja memotong kain-kain yang akan dioper kepada pekerja di tempat lain untuk dijadikan bahan pembuat lap, keset, atau kaos. Tapi semua itu tergantung bahan yang dia ambil. Jika kainnya murah, dia menjadikannya lap. Kalau mahal, dia jadikan kaos, seperti kostum untuk bermain sepakbola.
Madjid menggunakan rumahnya, tepatnya di lantai bawah, untuk mengelola usaha. Saat itu, ada tiga remaja pria yang tengah menyortir kain. Ketiganya adalah saudara Madjid yang baru tiba dari Tasikmalaya. Madjid mengaku pekerjaan ini cukup memberi keuntungan buatnya.
“Ya syukur-syukur tiap hari ada kerjaan. Kalau untung mah, lihat sendirilah. Pokoknya cukup aja. Yang penting tuh anak-anak, keluarga, dapat kerja,” kata Madjid.
Pangestu mengakui bahwa usaha konfeksi memang telah memainkan peran perekonomian paling penting di kelurahannya. Selain menyumbang pendapatan besar bagi penduduk, industri ini juga membawa nama daerahnya sebagai pemasok pakaian untuk kebutuhan pasar-pasar tekstil skala grosir di Jakarta, seperti Tanah Abang, Mangga Dua, atau Jatinegara.
“Tapi masalah yang timbul juga enggak sedikit. Kan sebenarnya di sini bukan tempat untuk industri, tapi untuk pemukiman,” ujar Pangestu.
Menurut aturan tata ruang di Jakarta Barat, Tambora memang wilayah yang peruntukannya hunian, bukan industri. Mereka yang berbondong-bondong mendirikan usaha konfeksi sebenarnya tengah menjalankan bisnis tak resmi. Pengusaha yang mendirikan bisnis konfeksi datang ke kelurahan-kelurahan, menyewa rumah, lantas membuka usaha. Karena peruntukannya bukan bisnis, pasti ada penolakan kalau meminta izin resmi.
Isnawa sendiri memang tak kuasa menegakkan aturan terkait peruntukan tata ruang di kecamatannya. Dia kena dilema. Sebab, bagaimanapun, industri konfeksi telah menghidupi ribuan masyarakat Tambora. Mereka tinggal di sini karena ada hubungan saling menguntungkan dengan pengusaha-pengusaha besar di bidang tekstil.
“Memang susah. Mereka cari makan dengan kerja-kerja seperti itu. Tidak ada yang salah. Memangnya di Jakarta mau cari kerja apa lagi,” ujar Isnawa mengulum senyum.
Hanya saja, Isnawa mengakui bahwa pertumbuhan industri konfeksi rumahan ini menjadi tak terkendali. Banyak persoalan menjadi muncul. Wilayahnya kian sesak, lalu lintas kendaraan makin tak tertib, kualitas lingkungan tempat tinggal rendah, dan hampir di semua kelurahan menjadi wilayah yang rawan kebakaran.

sumber :http://www.lenteratimur.com


0 komentar:

Posting Komentar

Site search

    Followers

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Visitor

    Ikut