About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
  • Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda,yang terbuat dari bambu

  • Petik laut adalah sebuah upacara adat atau ritual sebagai rasa syukur kepada Tuhan, dan untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan yang dilakukan oleh para nelayan. Umumnya, kegiatan ini diadakan di seluruh pulau Jawa..

  • Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain .

  • Tari Sajojo adalah sejenis tari pergaulan rakyat yang berasal dari Papua. Pulau yang paling Luas dengan Keadaan Geografisnya yang Terjal, terletak di ujung Timur Indonesia.

  • Ruwatan merupakan tradisi mencukur rambut anak rambut gimbal di dataran tinggi dieng.

  • upacara Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam. .

Rabu, 03 Juli 2013

Ini Juga warga indonesia !

Posted by okta tegar On 15.31 No comments

Miris! Kisah Anak-Anak Indonesia di Perbatasan



Siapa yang tidak mengenal Jakarta ? Semua orang Indonesia tahu itulah Ibukota Negara Indonesia. Ibukota yang kian memanas dengan perebutan kursi DKI 1. Namun itu tidak selamanya berlaku, jangan coba-coba bertanya di mana letak Jakarta yang menjadi Ibu kota Negara Indonesia kepada anak-anak Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia yang orangtuanya bekerja di sektor perkebunan. Sudah pasti dengan kepolosan mereka akan menjawab tidak tahu. Maklum saja di Tawau, yang hanya berjarak 30 menit dari Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltim, SD tempat mereka sekolah ternyata tidak memiliki peta Indonesia. Bahkan lebih parah lagi, anak-anak SD Indonesia ini dalam setiap upacara lebih dulu menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia, kemudian Negara Bagian Sabah, baru giliran menyanyikan lagu Indonesia Raya. (Kita perlu menarik nafas panjang setelah membaca kalimat tersebut. Seandainya WR Supratman sebagai pencipta lagu Indonesia Raya masih hidup akan tertunduk lesu mengetahui kabar ini).

Adalah Ir. Hetifah Sj. Siswanda, MPP, PhD, anggota Komisi X Dapil Kalimantan Timur menceritakan hasil resesnya selama tiga hari ke perbatasan Kaltim-Malaysia. Beliau bercerita hampir meneteskan air mata, tatkala berbicara memakai bahasa Indonesia, mereka belum merespon secara baik, tetapi ketika dijelaskan memakai bahasa Melayu oleh guru asal Malaysia barulah mereka memahaminya.

Lancarnya mereka berbahasa Melayu bukan karena keseringan nonton serial Ipin & Upin di salah satu stasiun televisi Indonesia atau televisi Malaysia. Namun, lebih karena guru Malaysia lebih dominan memberikan pelajaran dibandingkan guru Indonesia yang diperbantukan. Lalu kemana guru-guru asal Indonesia ? Pada kenyataanya peran guru-guru PNS dari Indonesia yang diperbantukan tidak berjalan maksimal. Pada tahun 2006-2009 sebanyak 109 orang, 2009-2011 juga berjumlah 109 dengan pola kontrak 3 tahun. Sedangkan 2011-2014 ini malah belum ada. Berdasarkan pengakuan di lapangan, guru-guru kita kurang gigih memberikan pengajaran dan pengaruh kepada anak-anak Indonesia.

Permasalahan dalam konteks ini tidak hanya sebatas hak pendidikan anak-anak TKI yang terabaikan. Tidak sebatas cerita pilu tentang Lagu Indonesia Raya yang dinomortigakan saat upacara. Tidak juga sebatas mahirnya mereka berbahasa Melayu dan terbengong-bengong saat ditanya dengan bahasa Indonesia. Atau cerita pilu para pejabat yang miris melihat dengan mata kepala sendiri anak-anak Indonesia di perbatasan
.



Kondisi seperti itu, sudah sangat menggambarkan jiwa anak-anak TKI di perbatasan yang bukan lagi Indonesia namun Malaysia. Perlunya pemahaman dan penguasaan bahasa Indonesia pada anak-anak itu, tidak sedangkal agar mampu menjawab pertanyaan para pejabat Indonesia atau bahkan Presiden kita saat melakukan aksi kunjungan perbatasan. Atau bahkan mengantisipasi tangis presiden kita SBY, yang sangat sensitif itu. Bisa-bisa beliau berderai air mata saat melontarkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia “Tahukah Adik-adik siapa Saya. Saya adalah presiden kalian, Presiden Indonesia. Ada yang tahu nama Saya?”. Sedang anak-anak itu terbengong-bengong saja.

Kita semua tahu “bahasa Indonesia bahasa persatuan bangsa Indonesia”. Bahasa Indonesia menyatukan seluruh bangsa Indonesia yang beraneka ragam dalam kerangka Negara Kesatuan Indonesia. Menyatukan hati dan jiwa para anak negeri dalam satu nafas Indonesia. Kita tidak bisa menuntut agar anak-anak TKI di perbatasan Indonesia-Malaysia agar mencintai bahasa Indonesia, sedang mereka tidak mendapatkan hak pendidikan layaknya anak Indonesia lainnya. Kita tidak bisa menuntut mereka untuk mahir berbahasa Indonesia sedang tiap hari mereka disuapi bahasa Melayu oleh guru-guru Malaysia. Kita tidak bisa menuntut mereka mencintai Indonesia sedang Malaysia lebih memperhatikan mereka dan Indonesia sebatas mengunjungi bahkan mengabaikannya.

Inilah sebenarnya Balada Siswa SD anak-anak TKI di Perbatasan Indonesia-Malaysia. Balada anak negeri di perbatasan Indonesia-Malaysia tidak pernah cukup diceritakan dalam artikel atau gambar film Tanah Surga, Katanya. Ini adalah kisah pilu yang melengkapi bergunung derita warga Indonesia yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Kita tentu tidak rela anak-anak bangsa lebih mencintai bahasa Melayu. Kita tentu tidak rela mereka justru lebih mengenal baik bendera Malaysia dan bendera Negara Bagian Sabah daripada bendera Indonesia.

Namun kita terpaksa harus merelakan itu semua, karena balada ini benar adanya.

summber: http://hajingfai.blogspot.com

indonesia patut bangga

Posted by okta tegar On 15.24 1 comment
sejumlah prestasi yang diraih putra-putri bangsa

1. Indonesia Juara AFF Futsal Championship 2010
Timnas futsal Indonesia berhasil menggondol gelar juara di turnamen AFF Futsal Championship 2010 setelah mengalahkan Malaysia 5-0 pada grand-final di Stadim Thu Po, Ho Chi Minh City, Minggu (11/4) sore. Ini merupakan kemenangan kedua timnas Indonesia atas Malaysia pada even yang sama. Vennard Hutabarat dkk sebelumnya mencukur tim negeri jiran pukimak itu 6-0 pada laga kedua penyisihan grup

2. Indonesia Juara Umum Karate Indonesia Terbuka di Bali
Indonesia menjadi juara umum Kejuaraan Karate Indonesia Terbuka ke-2 yang berlangsung 24-25 September di GOR Lila Bhuana, Denpasar, Sabtu, dengan mengumpulkan sembilan medali emas, 12 perak dan 18 perunggu.

3. Tiga Anak Indonesia juara Kompetisi Seniman Internasional 2010
Lukisan ketiga anak tersebut masuk dalam 315 lukisan terbaik dari sekitar 10.000 lukisan yang disampaikan kepada panitia. Mereka adalah siswa Ananda Visual Art School Bandung, yakni Michelle Wijaya (6) dan Ellen Setiawan (8 tahun) untuk kelompok usia di bawah 10 tahun, serta Shubham Patni (13) untuk kelompok usia 11–15 tahun.

4. Indonesia Juara 2 Festival Kebudayaan Kota Frankfurt 2010
Dalam Festival itu, kata Pensosbud KJRI Frankfutr, Mira Rochyadi kontingen Indonesia yang menampilkan kaum wanita dengan pakaian tradisional Bali dan membawa junjungan buah-buahan, memimpin barisan diikuti barisan aneka ragam busana tradisional dari berbagai daerah di Tanah Air. Mereka berjalan sepanjang dua kilometer melintasi jalan utama Kota Frankfurt. Kontingen Indonesia yang juga menampilkan Tari Barong Bali dan Tari Payung dari Sumatra Barat, melakukan atraksi di depan para juri di depan Balai Kota Frankfurt, dan mendapatkan sambutan meriah dan tepuk tangan dari ribuan penonton

5. Indonesia berhasil menjuarai turnamen dalam rangkaian The All Star Team Milan Junior Camp
Wakil Indonesia berhasil menjuarai Milan Junior Camp Day Tournament yang diselenggarakan di San Siro, Milan, setelah mengalahkan tim asal Italia, ASTI, 1-0.

Turnamen tersebut merupakan bagian dari The All Star Team Milan Junior Camp, program pembinaan pemain muda yang memberikan kesempatan kepada calon pemain berbakat di berbagai penjuru dunia untuk merasakan metode pelatihan dari salah satu klub terkemuka dunia, AC Milan.

Indonesia pernah menggelar All Star Team Challenge yang dibuka langsung oleh Franco Baresi awal Mei lalu di Jakarta. Sebagai lanjutan dari program tersebut, sebanyak 17 anak berbakat Indonesia dikirim mengikuti The All Star Team Milan Junior Camp.

Seperti yang diceritakan manajer tim Ricky Djoharli dari Milan, Indonesia berhasil menjuarai Milan Junior Camp Day Tournament yang digelar dengan sistem setengah kompetisi. Indonesia berhasil memenangi seluruh tiga laga babak penyisihan, yakni pertandingan perdana melawan wakil Eropa, Step Stone, 1-0. Kemudian, giliran delegasi Brasil dan Venezuela, UISP, yang ditekuk 3-1. Pada laga terakhir grup, Indonesia mengalahkan gabungan pemain Eropa non-Italia, USUNTP, 3-0. Di laga puncak, Indonesia mengalahkan para pemain muda Italia yang tergabung di tim ASTI, 1-0.

6. Indonesia Juara Umum 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) 2010
Indonesia berhasil menjadi juara umum pada Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia ke-17 atau 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) yang berlangsung di Denpasar Bali pada 12-17 April 2010.

7.Indonesia Juara Olimpiade Bahasa Jerman
Tidak hanya dalam olimpiade internasional sains saja siswa Indonesia berprestasi. Pada ajang Olimpiade Internasional Bahasa Jerman yang diikuti siswa yang belajar bahasa Jerman, Maria Adventia Gita Elmada (SMA St Ursula Jakarta), berhasil meraih juara 3 untuk Tingkatan A.

8. Anak Indonesia Juara Olimpiade Fisika
Kabar gembira datang dari Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) yang berlaga pada Olimpiade Fisika Internasional ke-41 2010 di Zagreb, Kroasia. Tim Indonesia menyabet empat medali emas. Tahun ini, Olimpiade Fisika Internasional diikuti 82 negara, dengan total peserta adalah 376 siswa.

9. Anak SMP Juara Olimpiade Matematika Tingkat Dunia
Peter Tirtowidjoyo Young, 14, anak SMP Petra 1 Surabaya, dan Andrew Tirtowidjoyo, 12, anak SD Santa Maria Surabaya, kakak beradik itu telah berhasil menjadi juara dalam Kompetisi Matematika tingkat Internasional.

Anak ketiga dan keempat pasutri Steven Tirtowidjoyo, 52, dan Rani Pandunata, 45, itu berhasil mengharumkan nama bangsa dalam kompetisi matematika tingkat Internasional di Incheon, Korea Selatan.
Peter si anak SMP menyabet medali emas sedangkan adiknya, Andrew si anak SD menggondol medali perunggu.

10. Tim Indonesia Juara di Olimpiade Robot Dunia
JAKARTA--Tim Indonesia berhasil meraih juara kedua dan ketiga tingkat Junior (SLTP) Regular Category pada ajang kompetisi Olimpiade Robot Dunia (World Robot Olympiad/WRO) 2009 yang berlangsung di Korea Selatan, 6-8 November lalu.

"Prestasi yang dicapai tim Indonesia kali ini merupakan hasil terbaik yang diperoleh Indonesia sejak mengikuti WRO pertama kali tahun 2004," ujar Humas dan Promosi Mikrobot, Paula Augusta dalam siaran persnya yang diterima ANTARA News di Jakarta, Selasa.

Ajang kompetisi tingkat internasional ke-6 yang diadakan di Gyeongbuk Pohang, Korea Selatan, ini diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari 24 negara di seluruh dunia.

Kompetisi WRO terbagi dalam dua kategori, yaitu Regular Category dan Open Category. Dalam Regular Category, peserta harus merakit sebuah robot untuk menyelesaikan suatu tantangan tertentu, sedangkan dalam Open Category, peserta bebas merakit robot menurut tema tertentu kemudian mempresentasikan ciptaannya di depan juri.

sumber:http://sorsow.blogspot.com

bulu tangkis indonesia kembali bersinar

Posted by okta tegar On 04.00 1 comment

Sinar Kejayaan Bulutangkis Indonesia Makin Terang



Dengan kemenangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di All England 2013, kejayaan bulutangkis Indonesia kini semakin tergambar nyata.

Namun, lebih dari itu, pasukan Pelatnas Cipayung membuktikan, Indonesia bukan lagi negara kelas dua di persaingan bulutangkis dunia. Indonesia tidak lagi bisa diremehkan seperti dua tahun lalu.

Prestasi Indonesia di ajang turnamen tertua di dunia ini menunjukkan persiapan matang disertai motivasi yang luar biasa tinggi. Sektor ganda campuran bisa melangkah lebih baik dengan bekal prestasi yang sebelumnya juga telah mumpuni. Inilah satu-satunya sektor yang sempat begitu diandalkan untuk mendulang prestasi di tahun 2012.

Yang lebih mantap, Tontowi/Liliyana tak perlu berjuang sendiri karena ada pasangan ganda lain yang bisa bertahan. Selain itu, kehadiran pasangan non-pelatnas Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadet sebagai lawan tangguh Tontowi/Liliyana di babak semifinal All England juga bisa menjadi contoh baik bahwa Indonesia masih yang terbaik di bulutangkis.

Artinya, pembenahan sistem pembinaan para pemain Pelatnas Cipayung berbuah manis diikuti geliat para pemain non-pelatnas yang semakin gemilang.

Dua pembinaan yang tercipta, baik secara terpusat di dalam Pelatnas Cipayung maupun secara perseorangan, akhirnya memunculkan banyak pemain dengan prestasi memukau di turnamen individu. Mereka-mereka dengan prestasi menawan itu tentu tak bakal menyulitkan di saat Indonesia membutuhkan tim terbaik saat berlaga di turnamen beregu (seperti Piala Thomas-Uber dan Piala Sudirman) atau turnamen di ajang kejuaraan multicabang seperti Olimpiade.

Catatan prestasi yang ditorehkan di All England tahun 2013 ini seharusnya bisa menjadi tolok ukur kebangkitan bulutangkis Indonesia. Sejak tahun 2003, belum pernah ada begitu banyak wakil Indonesia yang bisa bertahan sampai dengan babak perempatfinal. Bahkan, kerap kali perwakilan Indonesia langsung gugur layu di babak-babak pertama, paling jauh kedua.

Namun, tidak untuk tahun ini. Delapan wakil Indonesia bisa bertahan sampai di babak perempatfinal. Salah satunya pemain tunggal putri Lindaweni Fanetri, yang menjadi satu-satunya tunggal putri yang bertahan setelah sejak tahun 2003. Sayang Linda kemudian kalah dari Tine Baun asal Denmark.

Meski kalah, Linda menunjukkan sektor tunggal putri bisa bangkit dari keterpurukan. Semenjak kehilangan peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, Maria Kristin Yulianti, sektor ini semakin sulit mengejar sukses seperti yang pernah diraih di era kejayaan Susi Susanti dan Mia Audina di era 1990-an.
 
Wakil Indonesia lainnya yang bertahan cukup lama adalah pemain tunggal putra, Tommy Sugiarto. Kehadirannya di babak perempatfinal menjadi sedikit penutup luka setelah Sony Dwi Kuncoro — yang lebih diharapkan — justru harus terseok akibat cedera.

Pasangan tumpuan harapan Indonesia di sektor ganda putra, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, juga sedikit meleset setelah terhadang di babak semifinal.

Indonesia menempatkan dua wakil dari pemain non-pelatnas. Ada ganda campuran Markis Kido/Pia Zebadiah yang kemudian bertahan sampai babak semifinal dan akhirnya tunduk dari Tontowi/Liliyana. Pia juga bisa bertahan sampai babak perempatfinal di sektor ganda putri bersama dengan pasangannya Rizki Amelia Pradipta. Keduanya lalu kandas di tangan ganda putri Cina, Ma Jin/Tang Jinhua.

Yang jelas, sektor ganda campuran memang patut diberikan penghargaan karena bisa konsisten dengan kehadiran wakil terbanyak. Tiga dari empat pasangan ganda campuran yang lolos sampai perempatfinal bisa bertahan sampai babak semifinal. Sayangnya, hanya satu yang bertahan sampai final dan akhirnya meraih gelar juara yaitu Tontowi/Liliyana.

Yang luar biasa, Muhammad Rijal/Debby Susanto yang bisa menggilas ganda campuran unggulan pertama asal Cina, Zu Chen/Ma Jin dalam pertarungan sengit yang berujung pada kemenangan 16-21, 21-13, 21-18. Namun, seperti Fran Kurniawan/ Shendy Puspa Irawati — yang lebih dulu kandas di perempatfinal — Rijal/Debby juga dijegal lawan Tontowi/Liliyana di babak final, Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Beruntung Tontowi/Liliyana tak mau senasib dengan kedua pasangan “korban” ganda Cina itu. Gelar juara memang harus tetap bersama mereka yang juga sudah dimenangkan pada tahun 2012. Satu kali lagi, Tontowi-Liliyana bisa mengejar rekor milik mantan pasangan Korea Selatan, Park Joo-bonghung Myung-hee, yang pernah merebut tiga gelar beruntun pada 1989 hingga 1991. Catatan kemenangan back to back sebelumnya juga pernah  dibuat oleh pasangan ganda putra Ricky Subagja/Rexy Mainaky pada tahun 1995 dan 1996.

Itulah era di saat Indonesia mampu merajai kembali bulu tangkis dunia setelah lepasnya era Rudi Hartono. Di tahun 1996, Indonesia menempatkan masing-masing wakilnya secara bersamaan di puncak peringkat dunia. Dengan modal gelar juara ini, Tontowi/Liliyana menjadi kandidat kuat sebagai Most Valuable Player of the Year dari PB PBSI. Bayang-bayang hadiah sebesar Rp1 miliar tentu menjadi salah satu motivasi yang membuat mereka semakin haus gelar di turnamen selanjutnya. 

gara-gara BBM naik

Posted by okta tegar On 03.55 No comments
pengembang perumahan rakyat berencana mengerem pasokan rumah sederhana


JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar rumah sederhana bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah diprediksi kian melemah sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. Untuk itu, pengembang perumahan rakyat berencana mengerem pasokan rumah sederhana.

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo, di Jakarta, Minggu (23/6/2013), kenaikan harga BBM dipastikan melemahkan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah untuk bisa mengakses rumah layak huni. Penurunan pasar rumah sederhana bersubsidi diperkirakan mencapai 10 persen.

Tahun 2013, target pembangunan rumah oleh Apersi sebanyak 100.000 unit rumah, sejumlah 90.000 unit (90 persen) di antaranya merupakan rumah sederhana bersubsidi.

"Dengan menurunnya daya beli, masyarakat berpenghasilan rendah semakin sulit menjangkau harga rumah," ujar Eddy.

Sebelumnya, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz memastikan akan menaikkan harga patokan rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, menyusul kenaikan harga BBM. Kebijakan menaikkan harga rumah itu dinilai mendorong pengembang tetap memasok rumah bersubsidi.

Saat ini, harga maksimum rumah tapak bersubsidi dipatok pemerintah Rp 88 juta-Rp 145 juta, menurut zonasi. Subsidi rumah tapak ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan maksimum Rp 3,5 juta per bulan.

Secara terpisah, Bank Indonesia meyakini kenaikan harga Premium dan solar tidak akan memengaruhi harga properti. Pasalnya, sumbangan inflasi terhadap harga properti masih kecil.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menegaskan hal itu, menjawab pertanyaan wartawan di Bandung "Sumbangan inflasi terhadap properti masih aman," katanya. (LKT/IDR)

duka masyarakat tambora

Posted by okta tegar On 03.38 No comments
Api Tambora di Jakarta 



Di kanan kiri jalan sempit itu rumah-rumah sepetak berderet-deret. Setiap petak luasnya kira-kira dua meter persegi. Di jalanan, ibu-ibu tampak memasak, menjahit, dan sekerumun lelaki bermain kartu. Sementara, di ujung jalan yang sama, rumah-rumah itu kosong melompong dan tak beratap lagi. Yang ada tinggal puing-puing bangunan bercampur abu. Tembok dan kayu terlihat hangus.
7 Februari 2013 lalu, saat sore menjelang magrib, rumah yang berderet-deret di Rukun Tetangga (RT) 10 Rukun Warga (RW) 05, Kelurahan Duri Selatan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, ludes terbakar. Sekurang-kurangnya dua puluh petak rumah habis dan nyaris tak bersisa. Tak kurang dari seratus orang pun kehilangan tempat tinggal.
“Apinya cepet banget nyambernyakagak pakai bilang-bilang,” ujar Agus, 44 tahun, berkelakar.
Agus adalah salah seorang warga yang rumahnya ikut terbakar. Saat itu, bersama rekan-rekan prianya, dia tampak memimpin pembenahan rumah-rumah yang terlalap api. Mereka sibuk menggergaji kayu, memasang tiang, dan memasang atap asbes.
“Sementara Pak RT (Rukun Tetangga-red) enggak tugas dulu, koordinasi warga saya ambil alih,” ujarnya. Lalu dia berbisik, “Pak RT trauma, enggak bisa diajak ngomong dulu. Sudah tiga kali rumahnya ikut terbakar.”
Agus mengaku orang asli Duri Selatan. Sejak kecil dia telah melihat setidaknya empat kali kebakaran yang menghabiskan puluhan rumah di lingkungannya.
“Cuma kalau rumah sendiri baru dua kali kebakar,” terang Agus.
Sunar, tetangga Agus, adalah pria asal Semarang, Jawa Tengah. Sejak 1972, dia merantau ke Jakarta dan mengontrak rumah di Duri Selatan. Rumahnya sempit seperti kebanyakan rumah petak milik tetangga-tetangganya. Sama seperti Agus, rumahnya pun pernah terbakar dua kali. Akan tetapi, peristiwa kebakaran yang terakhir tak sampai menyambar rumahnya.
“Tapi ya tetap ikut bantu-bantu di mari. Namanya juga tetanggaan (bertetangga),” kata Sunar.
“Kalau di sini semua kompak. Ada yang kena musibah pasti dibantu. Mau dia asli sini mau yang bukan, kompak. Kalau entar ada kebakaran lagi memang siapa mau bantu kalau bukan tetangga sendiri?” Agus menyahut.
Di Tambora, kebakaran serupa bukan terjadi sekali dua, tapi amat sering.
“Ibarat arisanlah kalau di Tambora. Minggu ini kebakaran di kelurahan A, nanti beberapa minggu lagi kejadian di kelurahan B,” ucap Kardi, salah seorang staf penghubung pada Suku Dinas Pemadam Kebakaran Kota Jakarta Barat.
Pada kebakaran terakhir di Duri Selatan, kantor Kardi sampai menurunkan lima belas armada. Ini jumlah yang cukup besar untuk sebuah kebakaran.
“Sebenarnya dibilang besar juga enggak kalau cepat-cepat dipadamkan. Cuma itu, kan pemukimannya padat. Mobil enggak bisa masuk, air mampet. Makanya, begitu api padam, yang kebakar sudah banyak,” kata Kurdi.
Pada 2012, menurut data yang dihimpun oleh Dinas Pemadam Kebakaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jumlah bencana kebakaran di Jakarta adalah sebanyak 1.008 kasus. Jumlah ini meningkat dari tahun 2011 yang berjumlah 963 kasus. Sebagian besar kasus kebakaran di Jakarta disebut-sebut disebabkan oleh sambungan arus pendek. Dan dari semua kasus tersebut, Kecamatan Tambora menyumbang jumlah kasus kebakaran tertinggi di antara kecamatan-kecamatan lainnya.
“Sedikit saja ada kasus, misalnya kompor meledak, orang-orang damkar (pemadam kebakaran-red) sudah bingung. Turun banyak armada,” ujar Camat Tambora, Isnawa Adji, 40 tahun.
Isnawa mengakui Tambora masuk dalam daftar merah soal kebakaran. Baginya, penduduk di wilayahnya kerap tidak tertib dalam mempergunakan listrik. Sering kali dia menginspeksi dan sering kali pula dia menemukan banyak pelanggaran penggunaan listrik, termasuk pencurian listrik.
“Sudah sejak 2008 inspeksi dilakukan. Banyak temuan kecurangan. Tapi sampai sekarang kalau mau dicek lagi pasti juga masih banyak,” keluh Isnawa.
Akan tetapi, Agus menerangkan hal berbeda. Menurutnya, kasus pencurian listrik memang ada di lingkungannya. Dan dia sebagai warga susah untuk mencegah hal tersebut. Tapi, dia mengatakan bahwa persoalannya bukan hanya ada atau tidaknya kecurangan. Persoalan yang lebih substansial adalah harus ada aturan supaya pemukiman yang sudah sepadat ini tidak ditambah dengan pendatang baru. Apalagi, dia tak yakin pemerintah mampu menyediakan rumah-rumah yang nyaman untuk dijadikan hunian.
“Saya lihat setiap kali ada kebakaran bantuannya makanan, mi instan. Tapi sampai kapan kebakaran diselesaikan pakai cara-cara begituan? Nanti juga kebakaran lagi, kok!”

Terpadat Di Asia Tenggara
Selain Kelurahan Duri Selatan, ada kelurahan lain yang bernama Kalianyar. Keduanya merupakan bagian dari sebelas kelurahan yang ada di Kecamatan Tambora. Bedanya, Kalianyar jauh lebih padat dan sesak.
Jalanan di Kelurahan Kalianyar tak pernah sepi. Meskipun jalannya sempit dan sebagian becek, orang-orang nyaris tak berhenti berlalu lalang. Ramai orang berjalan kaki, bermotor (motorcycle), dan mengendarai mobil. Jika berpapasan, karena sempitnya jalan, sesekali pengemudi motor dan mobil mesti berhenti untuk mempersilakan salah satunya bergerak duluan.
Di kanan kiri jalan, nampak deretan rumah yang berhimpit-himpit di dalam gang-gang gelap yang sebagian nyaris tak tersentuh cahaya matahari. Di sekitarnya parit-parit sempit mampet airnya.
Situasi dan kondisinya yang sesak membuat Kalianyar disebut-sebut sebagai kelurahan terpadat, bukan hanya di Jakarta, tetapi di Asia Tenggara.
“Data itu menurut penelitian salah satu lembaga PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa-red). Kalau enggak salah (penelitian dilakukan) tahun 2000-an,” tutur Isnawa. “Jadi kalau kelurahan, terpadat di Kalianyar, satu kawasan paling padat di Asia Tenggara, ya Kecamatan Tambora ini.”
Tambora Jakarta Bermula
Nama Tambora yang melekat pada wilayah ini bukan datang begitu saja. Dia merupakan nama yang berasal dari sebuah gunung di Pulau Sumbawa.
“Sebenarnya saya kurang tahu detail kisahnya. Tapi bahwa nama Tambora asalnya dari nama Gunung Tambora yang di Sumbawa sana memang benar. Dari yang saya dengar, memang orang-orang dari Bima yang kasih nama kampung ini,” ujar Isnawa.
Nama Tambora pertama kali memang diberikan oleh orang-orang dari Kesultanan Bima yang datang pada abad ke 17. Kisahnya dimulai saat terjadi perang di Pulau Jawa pada 1676 sampai 1679, yakni antara Trunojoyo melawan Amangkurat I dari Mataram. Saat itu, Mataram dibantu oleh Perserikatan Perusahaan Kerajaan Belanda untuk India Timur (VOC).
Ketika itu, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten melibatkan negaranya dalam peperangan tersebut dengan membantu Trunojoyo. Deni Prasetyo, dalam bukunya Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara (2009), menuliskan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa merasa berkepentingan untuk turut menggempur Mataram. Alasannya, Sultan Cirebon Panembahan Girilaya, sekutu Banten, meninggal sewaktu kunjungan ke Kartasura (wilayah Mataram). Bahkan, kedua putra Sultan Cirebon, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, ditawan oleh Amangkurat I. Pada saat memerangi Mataram inilah Sultan Ageng Tirtayasa meminta bantuan kepada Kesultanan Bima.
Setelah Banten memintakan bantuan, Sultan Bima Abdul Khair Sirajuddin lantas mengirimkan pasukan ke Pulau Jawa. M. Hilir Ismail, dalam bukunya Peran Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara(2004), menuliskan bahwa pasukan Bima tersebut dipimpin oleh putra sultan sendiri, yakni Nuruddin Abubakar Ali Syah.
Pada saat terlibat dalam perang di Jawa tersebut, Nuruddin dan sekitar 19 anggota pasukannya tertawan oleh pasukan VOC. Mereka dibawa ke Batavia. Di sana, menurut Dr. Jacobus Noorduyn melalui artikel Makassar And The Islamization Of Bima, pasukan Bima tidak ditawan di sel, tetapi dibiarkan terlantar.
Tindakan Belanda ini faktanya memberikan kesempatan kepada Nuruddin dan pasukannya untuk membangun pemukiman di sebuah wilayah di Batavia. Selain membangun pemukiman, mereka juga melakukan pernikahan-pernikahan dengan penduduk setempat. Tak berapa lama pemukiman itu pun berkembang. Dan oleh orang-orang Kesultanan Bima ini, wilayah itu disebut Tambora, sesuai dengan nama gunung yang menjadi kebanggaan mereka di negara asalnya.
Meski demikian, Nuruddin sendiri tidak menetap di Tambora Batavia. Dia memutuskan pulang ke Bima. Di negaranya, dia kemudian ditabalkan menjadi Sultan Bima pada Dzulhijjah 1093 Hijriah atau 1682 Masehi. Tapi usia pemerintahannya tak lama. Dia jatuh sakit dan kemudian mangkat pada 13 Ramadhan 1099 Hijriah atau 22 Juli 1687 Masehi. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Tolobali, Bima.
Tambora Kemudian
Pemukiman yang dibangun oleh orang-orang Bima ini kemudian berkembang pesat. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, abad berganti abad, orang-orang dari berbagai negeri kemudian turut berdatangan dan bermukim di sini. Karena arus migrasi yang cukup kencang, tingkat kepadatan jumlah penduduk Tambora menjadi sangat tinggi.
Dari data yang diambil pada Januari 2012, jumlah penduduk di Kecamatan Tambora mencapai 277.606 jiwa. Jumlah manusia ini menempati wilayah seluas 540,11 hektar. Sedangkan kelurahan terpadat adalah Kalianyar, yang menurut survei kelurahan setempat pada Desember 2012, jumlah penduduknya sebanyak 29.055 jiwa. Jumlah penduduk ini berjejal di dalam wilayah yang memiliki luas 31,8 hektar.
Menurut buku Tambora Dalam Angka, jumlah penduduk musiman di kecamatan ini sangat banyak. Antara 40 persen sampai 60 persen. Mereka merupakan pendatang yang datang sewaktu-waktu atas kemauan sendiri dan mencari peruntungan dengan menjadi pekerja-pekerja di sektor informal.
Banyak sebab yang membuat Tambora menjadi wilayah yang dijejali manusia. Akses transportasi yang mudah, letaknya yang berdekatan dengan pusat-pusat perekonomian, dan wilayah yang biaya hidupnya relatif murah di Jakarta. Namun, salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah tumbuh dan berkembangnya industri konfeksi yang tersebar di hampir seluruh kelurahan di Kecamatan Tambora.
Isnawa bercerita bahwa industri konfeksi mula-mula muncul di Tambora pada 1970-an.
“Ketika itu banyak perantau dari Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat, datang ke Jakarta dan tinggal di wilayah Tambora. Merekalah yang memulai usaha konfeksi. Sejak saat itu, industrinya terus tumbuh dan terkonsentrasi di sini,” ujar Isnawa.
Di antara kesemrawutan yang nampak di Kelurahan Kalianyar, Muara Angke, dan Tambora, industri-industri konfeksi rumah tangga memang menyebar di mana-mana. Hanya dengan sepintas lalu, akan terlihat pintu-pintu yang terbuka, yang di dalamnya orang-orang tengah sibuk menjahit, menggulung benang, atau sekadar memotong pakaian.
“Hampir semua kelurahan jadi sentra konfeksi. Mungkin Cuma Roa Malaka (salah satu kelurahan di Kecamatan Tambora-red) yang sepi usaha konfeksi,” tutur Isnawa.
Isnawa mengaku tidak memiliki data resmi berapa jumlah usaha konfeksi rumah tangga yang ada di Tambora ini. Yang jelas, saat ini setiap tahun permintaan konfeksi selalu naik dan usaha serupa juga bertambah banyak dan beragam. Ada yang menyediakan pakaian dalam jumlah besar, namun ada pula yang cuma menyediakan kain-kain untuk serbet atau taplak.
“Coba lihat di rumah-rumah yang punya konfeksi. Nanti akan banyak pengumuman lowongan jadi tukang jahit, tukang bordir. Macam-macam,” terang Isnawa.
Secara faktual, usaha ini memang mendatangkan jumlah pekerja yang luar biasa banyak. Mereka datang dari berbagai daerah.
“Kalau cuma butuh kerja, apalagi orangnya bisa menjahit, ibaratnya kemarin datang, hari ini bisa mulai kerja,” tutur Pangestu Aji, 30 tahun, Sekretaris Kelurahan Kalianyar.
Madjid, misalnya. Perempuan 64 tahun ini telah tinggal di Kalianyar sejak 1960-an. Bersama almarhum suaminya, dia yang datang dari Tasikmalaya, Jawa Barat, memang berniat mengadu nasib di ibu kota Indonesia. Mula-mula dia berdagang makanan. Karena merasa peruntungan tak memihak kepadanya, dia beralih usaha ke konfeksi.
“Waktu itu tahun 70-an awal. Almarhum suami yang mula-mula usul. Ganti saja! Jangan dagang lagi! Jahit! Sudah. Mulai jahit. Sampai sekarang ini,” tutur Madjid.
Setiap hari Madjid bekerja memotong kain-kain yang akan dioper kepada pekerja di tempat lain untuk dijadikan bahan pembuat lap, keset, atau kaos. Tapi semua itu tergantung bahan yang dia ambil. Jika kainnya murah, dia menjadikannya lap. Kalau mahal, dia jadikan kaos, seperti kostum untuk bermain sepakbola.
Madjid menggunakan rumahnya, tepatnya di lantai bawah, untuk mengelola usaha. Saat itu, ada tiga remaja pria yang tengah menyortir kain. Ketiganya adalah saudara Madjid yang baru tiba dari Tasikmalaya. Madjid mengaku pekerjaan ini cukup memberi keuntungan buatnya.
“Ya syukur-syukur tiap hari ada kerjaan. Kalau untung mah, lihat sendirilah. Pokoknya cukup aja. Yang penting tuh anak-anak, keluarga, dapat kerja,” kata Madjid.
Pangestu mengakui bahwa usaha konfeksi memang telah memainkan peran perekonomian paling penting di kelurahannya. Selain menyumbang pendapatan besar bagi penduduk, industri ini juga membawa nama daerahnya sebagai pemasok pakaian untuk kebutuhan pasar-pasar tekstil skala grosir di Jakarta, seperti Tanah Abang, Mangga Dua, atau Jatinegara.
“Tapi masalah yang timbul juga enggak sedikit. Kan sebenarnya di sini bukan tempat untuk industri, tapi untuk pemukiman,” ujar Pangestu.
Menurut aturan tata ruang di Jakarta Barat, Tambora memang wilayah yang peruntukannya hunian, bukan industri. Mereka yang berbondong-bondong mendirikan usaha konfeksi sebenarnya tengah menjalankan bisnis tak resmi. Pengusaha yang mendirikan bisnis konfeksi datang ke kelurahan-kelurahan, menyewa rumah, lantas membuka usaha. Karena peruntukannya bukan bisnis, pasti ada penolakan kalau meminta izin resmi.
Isnawa sendiri memang tak kuasa menegakkan aturan terkait peruntukan tata ruang di kecamatannya. Dia kena dilema. Sebab, bagaimanapun, industri konfeksi telah menghidupi ribuan masyarakat Tambora. Mereka tinggal di sini karena ada hubungan saling menguntungkan dengan pengusaha-pengusaha besar di bidang tekstil.
“Memang susah. Mereka cari makan dengan kerja-kerja seperti itu. Tidak ada yang salah. Memangnya di Jakarta mau cari kerja apa lagi,” ujar Isnawa mengulum senyum.
Hanya saja, Isnawa mengakui bahwa pertumbuhan industri konfeksi rumahan ini menjadi tak terkendali. Banyak persoalan menjadi muncul. Wilayahnya kian sesak, lalu lintas kendaraan makin tak tertib, kualitas lingkungan tempat tinggal rendah, dan hampir di semua kelurahan menjadi wilayah yang rawan kebakaran.

sumber :http://www.lenteratimur.com



JAKARTA, KOMPAS.com — Pengembangan mobil sedan listrik Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta menelan dana lebih sedikit dari mobil listrik Dahlan Iskan, baik Tucuxi maupun Selo.

Ada kabar bahwa pengembangan mobil sedan listrik Menristek "hanya" menelan dana Rp 500 juta. Namun saat dihubungi Kompas.com, Jumat (12/4/2013), Gusti mengatakan, "Saya lupa persisnya Rp 500 juta atau lebih. Tapi yang pasti di bawah Rp 1 miliar."

Dengan biaya tersebut, sedan listrik yang direncanakan akan diberi nama Hevina Sedan itu bakal jauh lebih murah dari Tucuxi dan Selo.

Sebelumnya, pengembangan Tucuxi menelan dana hingga Rp 3 miliar. Sementara itu, mobil listrik Selo yang dikembangkan Dahlan Iskan setelah Tucuxi menelan dana sekitar Rp 1,5 miliar. Hevina Sedan bisa dikatakan hanya sepertiga Tucuxi.

Hevina Sedan telah dikembangkan sejak beberapa bulan lalu. Saat ini, sedan listrik itu telah memasuki tahap akhir dan akan diperkenalkan bulan depan.

Gusti mengungkapkan, sedan listrik yang dikembangkan nantinya akan dipakai sebagai mobil dinasnya, bergantian dengan mobil dinas menteri yang kini digunakannya. Penggunaan mobil tersebut juga dimaksudkan untuk uji coba.

Menristek punya misi ambisius. Sedan listrik itu akan menjadi salah satu low cost green caryang dijual sangat murah.


Anak Indonesia Bisa

Posted by okta tegar On 03.25 No comments

5 Anak Indonesia Tersukses di Olimpiade Sains Dunia

Anak-anak Indonesia pernah meraih penghargaan tertinggi di dunia dalam bidang fisika, yakni menjadi juara Olimpiade Fisika Internasional 2006 di Singapura. Kisah perjuangan dan semangat mereka yang ditopang oleh prinsip MESTAKUNG inilah yang kemudian diangkat ke layar lebar oleh Mizan Productions bekerjasama dengan Falcon Pictures menjadi sebuah film berjudul “seMESTA menduKUNG” agar dapat menyemangati dan menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya untuk menyusul langkah sukses mereka di kancah dunia. Sebagai penghargaanMizan.com kepada generasi terbaik bangsa itu, berikut ini Mizan.com ukir nama mereka dalam “5 Anak Indonesia Tersukses di Olimpiade Sains Dunia"
Jonathan Pradana Mailoa. Dialah sang peraih The Absolute Winne di Olimpiade Fisika International ke-37 yang diselenggarakan di Singapura. Mengalahkan 385 siswa terbaik dunia dari 84 negara. Wow! Prestasi yang luar biasa. Seluruh dunia mengakui kehebatannya dalam ilmu Fisika. Namun, remaja kelahiran Jakarta, 20  September 1989 ini justru terlihat malu-malu menanggapinya. Berulangkali pelajar SMAK 1 BPK Penabur Jakarta ini mengatakan bahwa prestasinya hanyalah sebuah kebetulan. “Aku pikir jika semua siswa di Indonesia belajar intensif seperti di TOFI, mereka pasti bisa meraih prestasi seperti diriku,” ujarnya merendah. Didikan untuk bersikap rendah hati memang sangat ditekankan oleh orang tuanya, Edhi Mailoa dan Sherlie Darmawan. Kini, dengan prestasi yang disandangnya, Jonathan mengakui ingin mengejar ketertinggalannya di sekolah sebelum nanti melanjutkan kuliah. Kemilau kemenangan rupanya tak membuat pencinta komik dan pengagum Andrea Corr ini tergila-gila ingin mengulang kembali kejayaannya. “Ingin memberikan kesempatan pada yang lain,“ jawabnya sambil tersenyum kecil. Juara sejati memang hanya muncul sekali!

M. Firmansyah Kasim. Firman memang anggota termuda di TOFI. Namun, siapa yang menyangka justru siswa SMP Islam Athirah ini sudah dua kali mengikuti olimpiade internasional mewakili Indonesia. Perawakannya yang kecil dan santai rupanya menyembunyikan semangatnya yang tak patah arang. Setiap saat bungsu dari empat bersaudara ini terus mengasah kemampuannya. Indonesia pantas berharap ABG kelahiran Makassar, 26 Oktober 1991 ini pasti mampu meraih prestasi yang lebih baik. Loyalitas “sang mutiara timur” ini memang sudah teruji. Calon fisikawan sukses yang sempat bercita-cita menajdi detektif seperti tokoh komik Detektif Conan ini, bahkan merelakan waktu bermainnya demi mengikuti bimbingan intensif TOFI. Hasilnya? Sudah terbukti, kan?

Andy Octavian Latief. Bocah kelahiran Pamekasan, 3 Oktober 1988 ini tak hanya dielu-elukan oleh seluruh rakyat Indonesia, tapi terlebih lagi oleh seluruh warga di tanah kelahirannya. Keberhasilannya meraih emas di Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura bak siraman air hujan di tengah kekeringan daerah asal karapan sapi itu. Siapa yang menyangka bahwa salah satu pengharum nama bangsa ditujukan pada siswa SMAN 1 Pamekasan ini. Namun semua pujian yang dilontarkannya tak mampu menggoyahkan nasionalismenya untuk tetap berkuliah di tanah air. “Kualitas universitas luar negeri dan dalam negeri sama saja,” jawabnya mantap.

Pangus Ho. Semua teman-temannya pasti akan menjawab bahwa bungsu dari tiga bersaudara ini sangat percaya diri. Namun sikapnya itu tak berarti sombong. Langsung menyabet emas di Olimpiade Fisika Asia di Almaty, Kazakhstan dan Olimpiade Fisika Internasional di Singapura ternyata tak membuatnya puas. Siswa SMAN 3 BPK Penabur Jakarta ini masih ingin berkompetisi di ajang internasional. Sedangkan di sisi lain, justru putra pasangan Hasyim Abidin Ho dan Sianita Tanto ini, tak berminat mengambil beasiswa di Singapura. “Saya tidak suka belajar di Singapura. Kondisinya sangat stres, tidak ada kebebasan, tidak enak.” Rupanya dengan pola pikir yang tidak neko-neko itu, pengagum Charlotte Church ini menjalani hidupnya untuk meraih cita-cita sebagai orang sukses. Good luck, Pangus!

Irwan Ade Putra. Satu-satunya peserta TOFI dari luar Jawa adalah Irwan. Pelajar SMAN 1 Pekanbaru ini rupanya termotivasi mengangkat pamor Riau di ajang internasional. Dua kali meraih emas di AphO Kazakhstan dan Ipho Singapura, tetap menjaga kecintaanya terhadap keluarga terutama ibunya.“Biarpun laki-laki, aku paling sering curhat sama mama, lho!”, katanya. Walau belum terpikir hendak jadi apa kelak, sulung dua bersaudara dari pasangan Tjen Leng dan Le Hwa ini mengaku ingin kuliah di luar negeri. Seperti apa sepak terjangnya kelak? Kita tunggu saja nanti!


Site search

    Followers

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Visitor

    Ikut